Mengabdi, Belajar, dan Tumbuh Bersama Santri
Liburan semester ini terasa sangat berbeda karena saya ikut terjun langsung dalam program Bina Pesantren (Binpes), salah satu kegiatan MBKM yang dibina di bawah Program Studi Kesehatan Masyarakat UNUSA. Kalau biasanya liburan diisi dengan pulang ke rumah atau sekadar istirahat, kali ini saya justru menghabiskan banyak waktu di pesantren. Ada banyak hal yang saya temukan di sana bukan hanya pengalaman baru, tapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana hidup bermasyarakat dan mengabdi secara nyata.
Selama bulan Agustus ini, saya sudah tiga kali turun lapangan. Kegiatan pertama adalah penguatan kemandirian santri yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD). Di sana saya berkesempatan menjadi penyuluh sekaligus fasilitator. Rasanya campur aduk, deg-degan karena harus bicara di depan banyak orang, tapi juga senang karena bisa ikut memantik diskusi yang seru. Santri-santri begitu antusias berbagi pandangan mereka tentang arti kemandirian, bagaimana mengatur diri sendiri, sampai cara menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas pesantren. Dari situ saya belajar bahwa kemandirian bukan hanya soal bisa melakukan sesuatu sendiri, tapi juga tentang berani bersuara, berpikir kritis, dan peduli dengan sekitar.
Kegiatan kedua adalah screening kesehatan yang dibuka dengan senam bersama. Bagian paling berkesan buat saya di sini adalah ketika dipercaya menjadi MC. Walaupun awalnya agak grogi, ternyata suasananya justru cair karena peserta begitu semangat mengikuti senam dan pemeriksaan kesehatan. Dari kegiatan ini saya melihat langsung bagaimana kesehatan di pesantren bukan hanya tanggung jawab individu, tapi juga hasil kerja bersama—baik santri, pengurus, maupun tim pendamping.
Yang ketiga, saya ikut dalam demo penggunaan kran sensor air. Kegiatan ini sederhana, tapi punya pesan penting tentang bagaimana menghemat air dan menjaga lingkungan. Santri diajak untuk mulai membiasakan perilaku hemat air, seperti mematikan kran setelah digunakan dan menjaga kebersihan tandon. Melihat mereka mencoba langsung teknologi sederhana ini membuat saya sadar bahwa perubahan besar memang bisa dimulai dari langkah kecil.
Tiga kali turun lapangan dalam sebulan benar-benar jadi pengalaman yang padat, tapi justru dari situ saya merasa liburan saya jauh lebih bermakna. Setiap kegiatan punya cerita dan pelajaran sendiri, entah itu melatih keberanian berbicara di depan umum, belajar mengatur suasana acara, sampai memahami pentingnya membangun kebiasaan sehat di lingkungan pesantren. Dari program Bina Pesantren ini, saya tidak hanya belajar memberi, tapi juga banyak menerima dan belajar dari santri tentang kesederhanaan, semangat, dan kemandirian mereka.
Liburan yang biasanya hanya lewat begitu saja, kali ini berubah jadi perjalanan yang membuat saya semakin yakin bahwa pengabdian masyarakat adalah cara terbaik untuk melatih diri, memperluas wawasan, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
ditulis oleh : Rachmania Devi Wulandari
.jpg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar